Apa Aran Aji Mate?




Saya senang sekali sekarang. Akhirnya, masa aktualisasi sebagai CPNS telah berlalu. Sekarang menuju masa yang sebenarnya lebih menyeramkan, yaitu menerapkan aktualisasi tersebut. Saya awalnya sangat bersemangat. Jujur, saya sudah punya segudang pembaharuan serta putusan yang berlimpah demi menyukseskan reformasi birokrasi. Namun, kalian harus tau kawan, ketika saya mulai makin dalam menyebur ke dalam dunia birokrasi itu, idealis saya mulai runtuh. 


Saya ingin berbagi kisah ini sebagai bentuk refleksi diri, yang mungkin ketika tahun mendatang, ketika saya membuka tulisan ini kembali, rasa syukur saya kepada Tuhan makin bertambah. Analis kata dan istilah, seperti yang saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya, bertugas dalam bidang perkamusan. Saya sangat pesimis dengan kondisi produk bahasa yang menjadi tanggung jawab analis.  Banyak sekali revisi di sana-sini, belum lagi tidak adanya penutur asli di tim ini. Saya yang orang Sasak setengah ini juga tidak bisa menjadi andalan dalam tim ini. Saya mulai bingung. Hingga saya berpikir, bagaimana lebih baik fokus ke pengembangan kamus daring saja? Lebih baik dan tidak terkesan melakukan pekerjaan yang tidak tampak hasilnya. Kemudian, hasilnya, …..


Saya mulai dengan berkoordinasi dengan teman sejawat. Semua mulai tampak, tampak memusingkan. Saya masih terus berusaha. Sampai rapat evaluasi diadakan dan saya menjadi salah satu peserta untuk perumusan Renstra 2020—2024, saya mulai lemas.


Jujur ya kawan, melihat teman-teman saya yang bekerja di pusat, saya merasa heran. Mereka kebingungan untuk menghabiskan anggaran mereka. Kadang hal yang sifatnya tidak masuk akal tercetuskan. Mulai dari membawa seminar kit dengan pesawat, yang ongkosnya sama seperti ongkos orang yang naik pesawat. Belum lagi, kegiatan yang berupa penyuluhan tapi cuman sekadar nyentuh, belum nusuk. Yah kalian ngerti lah ya. Saya tidak bermaksud iri, walau memang terlihat begitu ya. Tapi saya bingung saja sih, masa untuk kajian kamus atau penelitian bahasa yang serupa, yang sangat membutuhkan dana, khususnya untuk kesejahteraan informan ya, orang yang menjadi narasumber kami, hanya dihargai Rp25.000,00 per hari. 


Apalah daya, kalau ditanyakan kembali juga yang disalahkan kami juga. Tidak adanya koordinasi dengan tim peneliti dan tim keuangan. Saya hanya ingin menerangkan, memang solusi yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah ini adalah kretivitas kita dalam mencari peluang. Peluang kinerja yang membuktikan bahwa apa yang kita rancang bukan semata-mata nyentuh masyarakat, tapi uda ke tahap lebih lanjut. Sekian.

Di meja kantorku, saat mati lampu melanda Kota Lombok

Komentar