DILEMA MENJADI SENIOR DAN JUNIOR
Akhir-akhir ini, kita banyak melihat tokoh yang menduduki jabatan strategis
berasal dari kalangan yang masih muda, yah bisa dibilang masih terlihat masih
belum cakap mengemban tugas berat. Sebut saja, menteri-menteri baru kita, juga rektor-rektor
di beberapa universitas. Saya sebagai pengamat awam, merasa sama sekali tidak
terganggu dengan fenomena itu. Karena bagi saya, yang penting itu kualitas
bukan kuantitas, apalagi kuantitas umurnya. Walau sebenarnya saya termasuk
sebagai senior yang nampaknya mengagung-agungkan nilai senioritas. Melihat satu
junior saya yang lulus CPNS bersama saya, saya sangat senang. Saya senang ada
pembaharu, karena tempat kuliah kami sangat serius mendidik kami menjadi
peneliti andal, maap agak sombong sedikit.
Namun, ketika melihat dia yang kurang sopan, juga agak cuek, saya
menekankan diri saya, pintar dunia belum tentu pintar akhlak. Itulah yang
terlihat sekarang, banyak anak-anak pintar, tapi minim akhlak terpuji. Belum lagi,
ketika junior itu menjadi salah satu kandidat peserta terbaik, memuncaklah rasa
benci saya padanya. Namun, apa daya. Memang dia sangat jenius, dia juga mempunyai
bakat besar di bidangnya.
Ini yang saya mau tekankan pada rekan sejawat di kantor. Kadang, sebuah
kegiatan dipaksakan ada, karena melihat orang itu-itu saja. Maksud saya, tidak
ada niatan memperbaiki kinerja dengan peningkatan kinerja. “Toh, kita juga kan
yang mau gak mau yang mengesekusi” itu jawaban mereka. Nah, ketika ada pegawai
yang berkemampuan di bidang tersebut, gampang saja ia dibuang dan dialihkan. Ketika
semua terlihat sangat buruk, mereka mengatakan, kalau dia yang dikasih
pekerjaan, kita kerja apa?
Saya jawab saja, siapa suruh gak mau meningkatkan kemampuan. Siapa suruh
gak mau berkompetensi. Siapa suruh mempercayai mantra bahwa senior itu
berkuasa. Siapa suruh , bla, bla, bla….(jawab saya dalam hati).
Saya termasuk senior yang teraniaya, tetapi saya menjadikan itu
sebagai pemantik untuk peningkatan kualitas kinerja. Bukannya memaki
orang-orang yang saya anggap tak berkompeten, karena status saya sebagai
junior. Atau mengganggap junior itu songong, karena status saya senior. Dunia memang
gitu, selalu buat mules. Saya juga mules memikirkan ini. Lanjut solat asar aja
dah kawan. Sekian.
Di meja kantorku, ketika lampu masih padam di Lombok.

Komentar
Posting Komentar