Kenangan Sang Musafir di Kota Metropolitan
Hari ini adalah hari menjelang 4 hari batas pengiriman berkas pengangkatan CPNS Kemdikbud. Aku sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk lulus. Namun, lulus tes SKD dan SKB bukanlah akhir dari segalanya. Saya harus berjuang untuk menjadi CPNS yang baik hingga bergelar PNS. Baru tahu ternyata serumit ini. Bapak sebelumnya tak pernah memberitahu bahwa pekerjaannya sekompleks ini. Bayanganku hanya PNS adalah pekerjaan penuh ambisi yang mengorbankan segalanya untuk negara. Berkorban untuk negara ya, bukan mengorbankan negara. Alhasil, karena domisili di KTP ku di Bogor, aku harus mengurusnya semua di sini.
Pikiranku ketika harus balik ke kampung halaman setelah hampir 7 bulanan bertapa di Lombok, bahwa aku harus mempersiapkan dana lebih untuk segala berkas yang kubutuhkan. Bukan hanya karena biaya hidup yang mahal, pungutan liar di Bogor menurutku menempati urusan teratas dibandingkan daerah lain di Indonesia. Bayangkan saja, Surat Keterangan Berkelakuan Baik (SKCK) yang notabene diurus oleh kalangan pembela kebenaran, yaitu polisi, menjadi santapan empuk untuk menabung uang. Di Polres Bogor saya masuk dan diarahkan dengan arahan yang tidak jelas. Rumus sidik jari diperlukan untuk alasan penting yang membutuhkan lampiran SKCK. Rumus sidik jari kita itu, yang milik kita sendiri itu tidak akan diberikan jika kita tidak memberikan sejumlah uang. Kemarin saya dimintai Rp20.000,00. Uang itu katanya adalah biaya untuk foto sisi kiri dan kanan wajah yang telah diambil sang oknum tanpa memberikan hasilnya kepada kita. Mana fotonya pakai hp biasa lagi. Astagfirullah. Dan ketika aku bertanya dengan korban lain, mereka hanya tersenyum dan pasrah. Sungguh baik orang-orang yang tak berdaya ini. Lanjut lagi membayar adiministrasi SKCK yang memang sudah ada kejelasannya, yaitu Rp30.000,00. Untuk fotokopi legalisir? Ada lagi biayanya. Waduh, sambil menyusuri jalan kompleks Pemda Bogor, yang berslogan Tegar Beriman itu, saya memikirkan banyak hal. Begitu sulit hidup di sini jika tidak berpenghasilan. Miskin saja ditipu, berarti pilihannya adalah harus kaya dan berilmu. Ya, agar bisa melawan yang tidak benar.
Setelah dari warung, aku melewati jalur lain, agar melihat berbagai perubahan jalanan yang selalu kulewati hampir 2 tahunan. Masih tetap macet, walau sekarang kita dibantu dengan alarm yang akan berbunyi jika kita hendak menyeberang. Belum lagi, jembatan penyeberangan yang menghubungkan Universitas Gunadarma dan Gang Kedondong. Toko-toko yang lama juga sudah berganti. Entah itu berganti pemilik atau berganti cat. Satu hal yang belum berubah selain kemacetan di jalanan protokol ini, para pengemisnya. Luar biasa. Pengemis yang dulu selalu nongkrong di jalanan kecil yang menghubungkan Universitas Gunadarma dan Stasiun Pondok Cina, tiga tahun setelah aku tak melewati jalan itu, ia masih nongkrong di tempat yang sama dan menggunakan kaleng penampung uang yang sama. Begitu konsistennya mereka bergelut di dunia itu. Semoga saja, mereka bisa sadar secepatnya bahwa meminta-minta itu perbuatan yang sia-sia.
Hari terakhirku di Lombok kemudian aku habiskan dengan membuat NPWP. Sangat gampang rupanya. Susahnya, harus ke Cibinong lagi, dan trauma pembuatan SKCK awalnya menghantui. Namun, untung saja, karena kalau dilihat-lihat, lembaga yang lansung berurusan dengan uang dan pajak lebih mudah terserang pengitaian, jadi lebih aman jika menjauhi pungli. Hal menarik terakhir yang ingin ku bagi adalah pengalaman diriku yang benar-benar cocok dipanggil musafir. Berangkat jam 4 subuh karena harus mengejar kereta Nambo, membuatku sampai di Kantor Pelayanan Pajak Cileungsi jam 6.30 pagi. Bapak Clining Servis saja belum selesai mengerjakan tugasnya. Tak satu pun tampak satpam juga di sekitar sana. Alhasil, aku langsung berjalan mencari MUSALA. Tempat menunggu ternyaman yang sangat kusyukuri bahwa aku bisa memilikinya di manapun. Kalau seandainya aku bukan Hamba Allah, apa yang aku tuju ya?
Menarik menjalani hidup sebagai musafir. Karena memang pada dasarnya dunia bukan tempat menetap abadi untuk kita. Pada masanya kita akan kembali ke tempat sejatinya kita pulang, dimanakah itu? Kalau aku sih maunya surga. Kalau kamu?


Komentar
Posting Komentar