Minumlah Susu Bikini: Jelas Pasti Menutrisikan Otak




Pertemuan dengan buku Encep Abdullah ini berawal dari sebaran informasi rekan kantor mengenai esai bahasa. Saya yang masih pegawai baru langsung ikut mendaftarkan diri menjadi salah satu pembeli buku Susu Bikini. Karena saya yang paling terlihat antusias, akhirnya pimpinan kantor menugaskan untuk mengurus pemesanan buku Susu Bikini. Hampir satu bulan menunggu, buku yang berjudul menarik itu sampai dan saya begitu senang dengan selipan tanda tangan dan harapan rekaan terhadap pembacanya. Saya langsung meyebur ke tulisannya Kang Encep. 


Menurut saya, tulisan yang merupakan hasil tulisan Kang Encep yang sudah dimuat di media cetak ini merupakan bentuk penyadaran lelaki kelahiran 1990 ini dan keseriusannya  meladeni keseriusan itu. Saya pun berasa sama ketika membuat tulisan yang saya muat di blog pribadi. Kita yang mempunyai ilmu kebahasaan acapkali nyilu atau tergelitik melihat fenomena bahasa yang diterapkan masyarakat. Kadang saya juga bertanya, lebih baik mana menuruti kaidah membiasakan yang benar atau mengikuti perkembangan dan membenarkan yang biasa?


Namun, setelah saya pelajari bagaimana orang Barat mengakali masalah serupa, saya menemukan jawaban. Erin Mckean, salah satu guru leksikografer saya pernah berujar. Jangan anggap audiens kita sama sepemahaman dengan kita. Atau jangan sampai hal fatal seperti memaksakan mereka berpikir sama dengan kita dan membuat mereka meyakini bahwa yang kita ujarkan benar, itu adalah sebuah hal fatal. Buat dan dekatkan mereka dengan hal yang mereka kenal sehari-hari dan selipkan ilmu yang ingin kita berikan. Buktikan juga dengan tambahan keakuratan bahan yang kita punya dapat menyimpulkan bahwa kita layak diikuti. 


Intinya, dalam tulisan Kang Encep hampir semua yang saya rasakan, tulisan beliau mirip dengan yang saya keluhkan sewaktu menjadi guru. Kemudian, entah mengapa saya mengatasinya dulu dengan cara yang membuat anak-anak membiasakan yang benar. Lelah awalnya, namun mereka menikmati secara perlahan. Ke sini-sini, saya menyadari saya masih terbatas dalam mengajar. Ada masukan yang paling penting pula dari buku ini, apalagi yang bersinggungan dengan tugas sebagai tukang kamus. 

Sedikit kritik untuk buku ini adalah, keadaan bahasa memang sulit berkembang kalau mengikuti aturan yang parahnya tidak sesuai dengan konsumennya. Siapakah konsumennya? Ya tidak lain tidak bukan, masyarakat. Bagaimana solusinya? Nah, makanya coba baca bukunya ya.

Komentar

Postingan Populer