Macan: Mengaungkan Kondisi Saat Pandemi? Benarkah?

 


"Situasi pandemi yang menyapu dunia saat ini terekam dalam sejumlah cerpen yang dimuat Kompas sepanjang tahun 2020. Namun, seperti halnya warna budaya, situasi pandemi adalah konteks. Cerita tetap membutuhkan substansi yang kuat untuk ditempatkan pada konteks tersebut. Hal ini menjadi tantangan bagi penulis cerpen, tak terkecuali yang sudah dimuat di Kompas" (Macan, 2020: ix).


Saya selalu kagum dengan cerpen-cerpen yang dimuat Kompas. Mulai dengan pertemuan saya dengan Ahmad Tohari, Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma, Budi Darma, dan sebagainya, membuat saya jatuh cinta dan seakan menjadi pelanggan setia yang siap membeli kumpulan cerpen dari Kompas. Sebagai satu-satunya media yang memfasilitasi ruang sastra tetap hidup dengan berkembang, Kompas berusaha keras untuk bertahan. Apalagi di musim pandemi yang melanda semua negara, termasuk Indonesia. Dan saya setuju, kondisi seburuk apa pun, peluang untuk menggambarkan segala hal melalui karya pasti selalu muncul. Itulah kehebatan penulis dalam memanfaatkan peluang tersebut. 

Saya sudah lama tidak membaca. Dengan serangkaian tugas kantor yang menyilaukan, membaca dan menulis seakan gelap untuk diwujudkan. Padahal, hanya perlu niat agar membaca dan menulis itu dirutinkan. Hingga sekarang, saya mulai merasa begitu bodoh tanpa membaca dan menulis. Sampai akhirnya bersikeras menulis lagi di tahun 2023. 

Banyak hal yang ingin saya ungkapkan setelah membaca kumpulan cerpen yang terbit 3 tahun lalu ini. Macan sebagai judul merupakan cerpen dari Seno Gumira Ajidarma. Dan menurut saya, rasanya agak kurang srek dengan pilihan redaktur. Tidak seperti cerpen-cerpen Seno lainnya, Macan menurut saya tidak terlalu istimewa, walau sarat makna, cerpen lain dalam kumpulan cerpen Kompas 2020 rasanya ada yang lebih istimewa.

Mau dibilang kecewa, iya, sedikit kecewa dengan kumpulan cerpen tahun 2020, seperti kata pengantar redaksi, cerpen ini menggambarkan kondisi pandemi, saya rasa tidak ada yang khas selain cerpen dari Okky Mandasari, Sendiri-Sendiri yang secara eksplisit menggambarkan kondisi isolasi mandiri. Sisanya, tidak ada yang jelas menggambarkan kondisi pandemi tersebut. Atau mungkin sesuai kata pengantar redaksi yang mengatakan cerpen-cerpen yang termuat mengangkat tema pandemi itu dengan beragam pendekatan. Mungkin saja.

Berbicara cerpen favorit, tidak seperti kumpulan cerpen Kompas lainnya, saya hampir memfavoritkan sebagian besar cerpennya, hingga menelusuri sang penulis, dan membeli karyanya, cerpen di tahun 2020 ini tidak banyak yang saya jadikan favorit. Entah mengapa, rasanya biasa saja, atau mungkin selera saya yang belum berkembang.

Di sini saya ingin berbagi kesan saya terhadap cerpen yang menurut saya pantas untuk difavoritkan. Mereka adalah "Kandang Kambing Nurjawilah" karya Damhuri Muhammad, "Ulat Daun Emas" karya Muna Masyari, dan "Kita Gendong Bergantian" karya Budi Darma. Ketiga cerpen ini menurut saya cerpen Kompas yang saya rindukan untuk dibaca. Memang ketiganya membicarakan kondisi sosial masyarakat Indonesia, dan sangat penting untuk diresapi. Saya paling meresapi cerpen "Ulat Daun Emas", entah karena sesuai dengan pengalaman atau ceritanya yang sangat baik dipaparkan, saya paling mengingat cerita ini. Kisah Pak Haji yang sudah berkali-kali naik haji, tetapi sangat tidak peka ketika membayar hutang. Selalu menunda-nunda bahkan terkesan menganggap hutang itu adalah haknya. Bukankah banyak yang seperti itu? Sok kaya harta, tapi miskin kepekaan. Karena sedang dalam kondisi yang sedang dialami tokoh yang dizalimi H Sappak, saya begitu meresapi cerita ini. Alur cerita yang begitu rapi dijelaskan Muna membuat cerita yang sebenarnya sederhana ini begitu hidup. 

Ada lagi cerpen dari Damhuri Muhammad. Yang begitu mengena, karena saya sering menjadi tokoh jahatnya. Apa-apa selalu mengaitkan dengan agama, bahkan membuat pagar yang terlihat berbentuk salib saja dikira murtad. Heheheh, maafkan ya kadang saya sering seperti itu, terlalu berlebihan membedakan toleransi dan intolerasi.

Sama halnya dengan cerpen Budi Darma "Kita Gendong Bergantian", sekelumit kisah di masa penjajahan Jepang. Perjuangan, beban hidup, darah nanah, hingga penyakit yang ada di masa itu, Budi Darma menggambarkannya dengan sangat apik. Selalu kagum dengan metafora dalam cerita-ceritanya, Budi jarang mengecewakan dalam membuat karya yang sulit terlupakan. Akhir cerita yang ternyata merupakan bagian dari judul cerpen, benar-benar membuat saya takjub atas kebaikan hati tokoh Misbahul dan Umar. Patutlah untuk dibaca saat ini, terlebih ketika kita ingin mencari apa itu hakikat hidup. Sederhana dan secara pribadi menghipnotis saya, itu kesan dari saya untuk cerpen "Kita Gendong Bergantian". Terima kasih kepada penulis-penulis yang masih eksis berkarya. Perjuangan menulis rasa-rasanya sudah seperti berjuang melawan penjajah. Banyak tantangan dan penuh pengorbanan. Semoga di lain waktu masih dapat berkesempatan membaca karya apik dari penulis Indonesia. 

Meja kantorku, setelah mengunjungi pemakaman Bu Siti, 16/01/23

Komentar

Postingan Populer