Keajaiban Menjadi Bagian The Reds
Dulu gue sama sekali gak suka
namanya sepak bola apalagi nonton bola. Karena pertama gak suka olahraga dan
kedua karena kehasut pikiran bapak, ngapain capek-capek melihat orang ngejer
bola. Cukup tau skor dan drama permainannya aja. Well, ditambah lagi Ustad Adi
menegaskan carilah kegiatan yang membuat kita berguna. Kemudian menonton bola
sendiri masuknya ke perbuatan sia-sia. “Saya gak pernah nonton. Tapi saya tahu
semua beritanya ” ungkap sang ustad.
Hingga tahun 2017, gue nonton
video trending Mo Salah yang diserang secara sengaja oleh Ramos. Dia nangis dan
dengan berat hati harus meninggalkan lapangan yang baru 25 menit dicicipinya.
Nah dari itu, gue terus-terusan kepoin sang pemain bola bernomor punggung 11
itu. Ia adalah Mohammad Salah, lelaki kelahiran 1993 asal Mesir. Semua video
dari debut hingga puncak kariernya, gua pantengin satu-satu. Yang paling
menarik dari sosok Salah adalah statusnya sebagai seorang muslim. Dan yang
paling membuat gue setia ngikutin perkembangan beritanya adalah kebiasaan
uniknya yang menandakan itulah yang harus dilakukan seorang muslim. Mulai dari
berdoa sebelum main, sujud syukur ketika mencetak gol, dan tetap berpuasa
walaupun sedang ada jadwal permainan. MasyaAllah, gue bener-bener setuju dengan
apa yang dikatakan Ustad Adi, orang yang kita kagumi, secara gak langung akan
menghipnotis kita berkebiasaan sama dengan dirinya.
Kayak dulu, gue suka banget
namanya Kpop dari pertama gua kenal Big Bang dan 2nei1. Secara gak sadar,
dengan mengagumi mereka, gua menjadi keikutan cara berpikir dan gaya mereka. Kemudian
setelah kabar buruk dari semua personilnya, satu per satu muncul, barulah tersadar
diriku bahwa ngapain mengidolakan orang yang gak akan membimbing kita ke surga.
Setelah itu, Alhamdulillah saat ini gua mengagumi orang yang lumayan tepat,
walaupun di ranah yang sama sekali gak gue duga sebelumnya. Secara dari zaman
sekolah, nilai olahraga gue gak pernah bagus, kecuali renang. Loh sekarang
malah jadi hiburan wajib gue dan berbagai idola gue berasal dari dunia
olahraga.
Kemudian setelah menjadi fans
sejati Salah, gue secara langsung menjadi tahu banyak hal tentang sepak bola.
Sekarang juga gue merasa mengikuti kebiasaan Salah menjadikan gue lebih dekat
dengan Allah. Dulu yang namanya angkat tangan buat doa aja gua malu, sekarang
setelah sadar ngapain harus malu, gue membiasakan diri untuk melakukan apa pun
harus dimulai dengan doa dengan menengadahkan tangan menghadap muka. Bukan
ajang buat dilihatin melainkan bentuk pengkhusuan diri bahwa hanya Allah tempat
kita memohon dan minta ampun.
Bermain bola, gak hanya sekadar
berlari, kita harus sadar bahwa main tanpa strategi dan keberuntungan akan
sulit
Kembali ke topik awal, semenjak
gabung menjadi The Reds, setiap pertandingan Liverpool gak pernah gua absenin. Gak
ada tayangan live di TV, gue bela-belain biar tetep nonton live walau kuota
habis. Rasanya kok ikhlas dan gak akan selesai nonton kalau peluit akhir
permainan berbunyi. Namun, akhir-akhir ini jadwal permainan mereka selalu di
masa solat tahujud. Itulah cobaannya. Mustinya gue harus mantap untuk memilih
tahajud dulu.
Menjadi bagian dari The Reds saat
ini, menurut gue adalah hal terindah yang pernah gue punya. Salah dan pemain
bola yang muslim lainnya mempunyai kelebihan di mata gue. Gak hanya bekerja
ngejer-ngejer bola, mereka mempunyai banyak perjuangan untuk memberi kemenangan
atau mencetak sejarah baru untuk klubnya. Bermain bola, gak hanya sekadar
berlari, kita harus sadar bahwa main tanpa strategi dan keberuntungan akan
sulit. Harus siap lari lagi lebih kencang ketika ada kesempatan, harus cepat
memperbaiki diri ketika salah mengoper bola atau membuat lawan berkesempatan
mencetak gol, dan mungkin seperti tayangan yang tak sengaja terekam, ketika
Keita memasukkan bola ke gawang Porto, terlihat Milner mengungkapkan
kegembiraannya dengan mengepal tangannya dan kembali ke tempat ia harus
bertugas kembali. Itulah nikmatnya, itulah sepak bola.

Komentar
Posting Komentar