Pemerintah VS Komunitas


Saya berpikir panjang bagaimana mengalokasikan uang titipan Gusti Allah dengan cara yang bermanfaat. Bapak yang menegaskan bahwa uang yang kita dapat harus ada yang disumbangkan, sedikit membuat saya agak tertekan. Tertekan bukan  takut uangnya habis, tetapi tertekan karena kepikiran acara apa yang bersifat berguna di masa depan yang bisa dirancang. Gak hanya sekadar ngasih uang intinya, tetapi harapan dari acara yang nanti tercipta bisa membantu mereka menghadapi masa depan.

Kemudian banyak ide bermunculan, saking banyaknya saya ngerasa rambut aja kerasa gosong gegara memikirkan hal ini terlalu serius. Well, setelah pertimbangan panjang diputuskanlah bahwa acara akan bertemakan gerakan masyarakat hidup sehat. Sebelum ke tema ini, kegiatan utama yang ingin saya sangat ingin adakan adalah pelatihan menanam tanaman hidroponik dan pemanfaatan limbah ternak. Alasan yang mendasari keinginan tersebut adalah karena banyaknya warga di Lombok bekerja sebagai petani dan peternak. Selajutnya, ingin sekali rasanya membuat acara literasi, acara utama Gubuk Belajar Ceria (GBC). Namun, melihat ketertarikan terhadap buku lebih sedikit daripada kegiatan psikomotorik. Alhasil, mengambil tema tentang kesehatan yang nanti akan diperbanyak dengan kegiatan praktik adalah pilihan utama di bulan April ini.

Berhubungan dengan polemik anak zaman now, yaitu masalah stunting, saya berharap bisa menyumbang kegiatan yang mengedepankan pentingnya memilih makanan yang sehat untuk anak khususnya. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak dibuat lebih pintar dan selektif dalam memilih makanan yang sehat. Setelah teguh membuat tema acara, “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat untuk Generasi Emas”, proposal segera disusun untuk dapat mengundang pihak pemerintah. Namun, seperti yang sudah saya duga sebelumnya, dinas kesehatan selaku pihak pemerintah begitu sulit diajak bergabung. Eksklusivitas mereka membuat kegiatan komunitas terasa tak penting bagi negera. Padahal, saya hanya meminta pihak dinas kesehatan menghadiri acara atau sekadar memberi saran. Isi proposal yang sudah menekankan bahwa kegiatan ini mendukung program kerja gerakan masyarakat hidup sehat, pola hidup sehat, dan bla bla bla, tidak menjadi prioritas bagi mereka. Mereka merespon bahwa hari libur tidak ada kegiatan yang dapat dikunjungi. Dalam hati memprotes, kalau hari kerja, kalian menjawab bahwa kegiatan di dinas sangat padat. Kemudian kapan kalian bisa memikirkan rakyat yang membutuhkan kalian?

Emosi memang tak akan berguna diluapkan ke orang yang tidak pedulian. Setelah sejenak merenung dari perjalanan panjang mengantar proposal itu, saya berpikir, mungkin itu yang terbaik. Namun, kembali lagi memikirkan perjuangan untuk mengantar proposal itu, saya merasa kesal kembali. Mulai dari kesasar, kesasarnya naik ojek lagi, sesampainya di dinasnya disambut dengan jawaban, “kita ada pergantian kepala dinas, jadi agak susah untuk kepala dinas hadir”. “Siapa saja mbak, kami ingin dari siapa pun dari dinas hadir dan memberi masukan. Itu sudah cukup. Tidak perlu ada periksa gigi atau mulut atau hal rumit lainnya” pinta saya memelas. Dan jawabannya, “nanti kita infokan”. Saya setelah mendengarnya ingin terus bertanya, tetapi mata sang resepsionis sudah beralih ke kesibukannya, tak menganggap saya yang masih berdiri.

Acara yang direncanakan Jumat, 19 April 2019 mengapa sangat memerlukan bantuan mereka agar terlihat kerja sama antara pemerintah selaku pembuat birokrasi dan regulasi dengan pihak komunitas selaku kaki tangan pelaksana harapan rakyat. Namun kenyataannya sangat sulit menjadi bagian dari prioritas pemerintah. Setelah penolakan tersebut, saya memikirkan kembali bahwa untuk ke depannya mengajak pemerintah tidak usah dilakukan lagi. Biarkan kita berjalan sendiri-sendiri. Entah kapanlah, mereka dan kita akan berjuang bersama-sama layaknya sebuat bagian yang saling melengkapi.  

Komentar

Postingan Populer