Srimenanti Jokpin: Sebuah Karya yang Melengkapi Ibadah Puisi






“Ponsel, apa keinginan terbesarmu saat ini?”
Ponsel : “aku ingin meledak supaya sepi hancur lebur dan kau tak lagi menjadi hambaku”




Puisi favorit yang selalu melekat ketika mendengar nama Joko Pinurbo (Jokpin) adalah Malam Rindu. Puisi itu, bagi saya sebuah bukti yang mencirikan identitas Jokpin. Mengorelasikan dengan suatu karya yang telah teridentikkan, bagi saya, hal tersebut merupakan hal yang tidak semua orang bisa melakukannya. Apalagi kalau yang disambung-sambungkan itu kemudian diplesetkan atau dapat dikatakan diparodikan agar sesuai dengan puisi yang dibuat. Itu rumitnya, dan Jokpin membuatnya begitu mengalir. 


Setelah beberapa tahun tidak bersentuhan dengan karyanya, tersiar kabar di laman mojokstore bahwa Jokpin meluncurkan sebuah novel. Srimenanti judulnya. Tampilan luar bukunya yang memukau, menggambarkan seorang wanita dengan kuas di tangan kanannya, menunduk dan ada seekor burung di atas kepalanya. Saya langsung tertarik dan segera menabung untuk membelinya. Dan, saya mendapatkannya.


Saya menghabiskannya hanya dalam waktu 4 hari, itu juga karena ada kerjaan menumpuk di kantor. Dan meresensinya baru seminggu setelahnya. Kesan saya, novel ini benar-benar unik. Mungkin bisa mengarah ke abstrak. Mirip dengan tanggapan saya ketika membaca karya Seno Gumira Aji Darma. Karya mereka berbeda ranah tetapi menurut pandangan saya sejalan dalam menampilkan karya yang merumitkan imajinasi. Bayangkan, imajinasi saja sudah terlihat awang-awang, ini ditambah rumit lagi. Nah itu dah kesan saya. 


Eh tapi tahan dulu, bukan berarti novel pertama Jokpin ini gak saya rekoomendasikan ya. Novel ini dapat dikatakan sebagai alih wahana dari puisi terbaik yang pernah saya baca. Puisi dalam Srimenanti ini banyak dari buah karya Sang Penyair Hujan, iya hehehhe, Sapardi Djoko Damono. Mulai dari puisinya yang berjudul Yang Fana adalah Waktu, Hujan dalam Komposisi, dan sebagainya. Kumpulan puisi Celana milik Jokpin juga terselip dalam novel yang pertama kali diterbitkan bulan April 2019 ini, serta banyak kutipan dari tokoh-tokoh yang diambil Jokpin dari twitter. 


Saya merasa ketika membaca ini, saya dapat melihat apa yang dirasakan Jokpin terhadap puisi. Membaca Srimenanti mengingatkan saya dengan Ratih, teman karib yang begitu mencintai puisi. Saya mampu dan pintar membuat puisi. Akan tetapi, jika melihat orang-orang yang sepaham dengan Jokpin atau Ratih, saya aneh melihatnya. Kok bisa sebegitunya membuat puisi atau memaknai puisi begitu dalam. Bukan menelaah masalah majas, gaya bahasa, atau tema, bla bla bla, layaknya yang kita pelajari di Pengkajian Puisi, melainkan kecintaan mereka itu benar-benar seperti beribadah. Kalian sadar kan, jika kalian beribadah. Kalau kita benar-benar taat, kita akan merasa berdosa jika tidak menunaikannya. Atau jika tidak khusyuk saja, jadinya pasti akan merasa bersalah. Seperti itulah saya melihat mereka.


Kembali lagi ke topik, bahwa buku ini benar-benar cocok untuk kalian yang mampu berimajinasi dengan puisi. Dalam bagian pertamanya saja, Jokpin secara cepat menyetrumkan saya dengan kalimat pujangganya. Saya langsung terpukau, “ini novel kok unik ya” ungkap saya agak takjub. Ini ungkapan-ungkapan yang saya tandai, karena saya pikir ini dapat saya pakai kalau sedang dalam pujangga mode. 


“Malamnya saya dipeluk demam setelah bertubi-tubi dicumbu hujan” (Srimenanti, 2019: 1)

“Apa yang dipersatukan oleh cinta ternyata bisa diceraikan oleh politik” (Srimenanti, 2019: 77)

Dan sebagainya…


Pada akhirnya, saya menyadari karya itu memang menyesatkan. Setelah membaca ini, saya jadi suka merenung sendiri. Kadang juga mengikuti baris-baris novel yang menyarankan hidup itu dibuat menyenangkan saja, bisa dengan dengan minum kopi, nangis di terowongan gelap, atau sesekali nabrak tiang listrik deh. Nah, penasaran kan. Buruan kawan beli, atau kalau lagi bokek bisa datang ke Kantor Bahasa NTB.





Di meja kantorku, saat menunggu solat asar.




Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer