10 Hal yang Mengeksiskan “Kelombokan” Lenek



Sebuah daerah kecil yang di Google Maps belum terdeteksi ini, bagi saya adalah kawasan hunian yang asri dan unik masyarakatnya. Lenek, daerah yang baru-baru sekarang berubah menjadi kecamatan sendiri yang terkenal dengan wisata Koang Gali ini sudah ditempati sejak masa penjajahan Belanda. Dibandingkan dengan daerah lain seperti daratan di bagian Lombok lain yang masih berupa hutan belantara, Lenek sudah mengeksiskan dirinya sebagai pasukan Kerajaan Selaparang.

Desa Lenek merupakan salah satu desa tua yang ada di sekitar Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Desa Lenek ini dulu bernama Kota Tembek. Tembek adalah kata yang bermakna ‘permulaan’ dalam bahasa Sasak. Hal ini dibuktikan melalui Bokor Emas dan Kubur Presak yang seluas tujuh hektar peninggalan Kerajaan Selaparang. Sekarang daerah tersebut terkenal dengan Dusun Tembek Bahagia. Daerah tersebut menurut masyarakat Lenek meliputi Desa Suralaga, Desa Lenek, dan seluruh desa di seluruh Pulau Lombok.

Setelah hampir satu tahun beradaptasi di desa ini, saya tertarik untuk menuangkan berbagai hal yang menyangkut Lenek. Berikut saya cantumkan 10 hal unik dari Lenek yang kamu patut tahu jika ingin bergabung menjadi “Dengan Lenek ”.

1. Kuasailah bahasa Sasak subdialek Lenek
Kalau berbicara tentang subdialek, kita akan memasuki ranah dialektologi dengan perhitungan alat bahasa yang kompleks. Karena tulisan saya ini masih gambaran subjektif, saya hanya mampu menyajikan ciri bahasa Lenek secara sampelmatis saja ya. Lenek dengan bahasanya cenderung memiliki logat yang sama dengan subdialek lain di Lombok Timur. Bagian kebahasaan yang paling menarik adalah personanya. Untuk menunjuk orang, Dengan Lenek (sebutan untuk orang Lenek) menggunakan kata epe. Itu termasuk kosakata dalam Kata Alus (tingkatan bahasa yang biasa digunakan bangsawan). Kemudian untuk memanggil nama panggilan biasanya disertakan kata inaq (ibu) atau amaq (bapak) walaupun seseorang yang dipanggil tersebut belum menikah. Ciri persona lainnya yang membuat saya semangat untuk meneliti adalah perubahan nama untuk mengakrabkan hubungan. Saya memasukkannya ke dalam artikula persona. Penambahan konsonan k di awal nama seseorang adalah unsur kebahasaan khas dari Lenek. Selebihnya mengenai kekhasan itu akan saya tulis secara terpisah di bagian “Bukan K Biasa: Sapaan Akrab Masyarakat Lenek”.

2. Tidak ada namanya “orang jahat ” jika pertama kali datang
Memang sudah menjadi ciri orang Indonesia, kalau bertemu orang asing apalagi orang luar negeri, tingkat keramahannya di luar batas normal. Begitu pula masyarakat di desa yang terpilih sebagai Balai Latihan Kerja terbesar se-Bali dan Nusa Tenggara ini. Keramahan itu tertuang dengan anggukan sapaan lembut, senyuman sambutan manis, dan bahasa tubuh yang begitu dramatis. Tak percaya? Coba saja. Pasti ketagihan ke sini.

3. Kegiatan sejenis barter sudah biasa

Poin ini adalah hal yang paling membuat saya kagum dengan desa ini. Kalian sudah tahu kan program barter itu? Sebelum adanya uang, pertukaran barang sudah menjadi hal lumrah yang diminati orang banyak. Walau terkesan merugikan bagi beberapa pihak, esensi dari barter ini bukan hanya sekadar alasan ekonomis melainkan didukung dengan alasan familis dan nasionalis. Namun mirisnya, ketika saya sendiri terlibat langsung dalam pertukaran itu, perasaan buruk sangka serta egois belum bisa saya tangkas. Ketika paman saya kedatangan temannya dari Lemor, kami yang pada saat itu tak punya cadangan beras berlebih, mau tidak mau (dan memang harus ikhlas) ingin membalas barang bawaan sang tamu yang berupa sayur-sayuran dengan ikan. Ikan bro, saya yang masih anak baru masih melihat sejenak ke ikan yang saya rawat sebagai tanda penghormatan terakhir kepada mereka yang sudah lama saya asuh. Sayuran yang tamu itu berikan memang banyak jumlahnya, tetapi dua hari kemudian layu semua. Belum lagi kalau buah-buahan seperti srikaya atau buah yang cepat busuknya dijadikan sebagai bahan barteran, kita perlu ekstra tenaga mencari tetangga yang mau menyelamatkan buah itu dari kemubaziran.
Paman saya pernah bilang, rezeki itu uda diatur. Kalau kita bisa memberikan yang lebih baik mengapa tidak? Kan memang itu yang kita punya dan mungkin yang mereka butuhkan. Makanya, barter itu tetap paman saya  jalani guys sampai sekarang.

4. Kosongkan perut sebelum berkunjung ke rumah warga
Kebiasaan ini mungkin sudah menjadi kebiasaan di hampir pelosok negeri sudah biasa. Kata teman saya di Sulawesi, tradisi itu acapkali membuatnya naik berat badan. Namun kalau di sana hanya terjadi ketika lebaran saja. Kalau di Lenek bisa dibilang setiap hari. Hampir semua wanita di sini bekerja sebagai ibu rumah tangga. Ibu-ibu itu harus selalu siap menyajikan makan lezat untuk sang suami yang bekerja di ladang, tempat ternak, atau kantor. Makanya kalau ingin bertamu, disarankan untuk mengosongkan perut terlebih dahulu.

5. Gak ada namanya milik sendiri
Poin ini berhubungan dengan kebiasaan barter. Karena pertukaran barang sering terjadi, dan barang yang ditukarkan biasanya dalam jumlah banyak, sang pemilik sering membagikannya ke tetangga. Bahkan saya mulai terbiasa dengan kunjungan tetangga-tetangga yang menanyakan “ada apa di rumahmu?”. Pertanyaan yang sangat tabu bagi masyarakat kota, tetapi di sini menjadi permulaan ketika bertamu.

6. Backsound perjalanan Anda akan berbau Islami
Sebagai Pulau Seribu Masjid, Lombok hampir punya puluhan masjid dalam satu kecamatannya. Apalagi setelah peristiwa gempa yang mengguncang Bumi Gora ini, semua masjid berlomba memasang speker untuk memperdengarkan salawat dan musik religi seantero daerahnya. Begitu pula di Lenek. Lenek masuk ke dalam daerah di bawah kekuasaan Nahdhatul Wathan (NW) Anjani. Kalau di Jawa ada aliran Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah, di Nusa Tenggara Barat menjunjung tinggi aliran NW. NW awalnya hanya satu aja, tetapi karena perpecahan keluarga jadi pisah deh. Selebihnya bisa kalian lihat di bahasan “Aliran dari Lombok untuk Lombok dan oleh Lombok”.
Kembali lagi ke backsound perjalanan, beberapa lagu yang diputar dibuat sendiri oleh masyarakat loh. Tentunya yang berhubungan dengan NW itu. Makanya terasa unik aja mendegarnya sekaligus gak sadar karena lagunya sungguh syahdu.

7. Ustad menjadi profesi favorit
Hal ini saya sadari setelah melihat pajangan baliho caleg yang terpasang di pinggir jalan. Caleg-caleg itu hampir 90 persen bergelarkan sarjana agama atau profesinya sebagai tokoh agama. Memang menjadi sebuah kepercayaan di sini bahwa tokoh agama lebih baik dipercaya ketimbang orang akademisi. Ustad-ustad itu juga menjadi tauladan yang benar-benar dipatuhi. Gak heran juga kalau banyak ustad yang nyaleg berhasil di kancah perpolitikan di Lombok. Melihat fenomena ini, banyak sekali anak yang bercita-cita menjadi ustad atau tokoh agama.

8. Kota dengan hampir 80 % penduduknya sebagai petani dan peternak
Dengan lahan yang melimpah ruah, berbagai tanaman tumbuh subur di Lenek. Kalau kalian menyempatkan diri melewati Jalan Baru, hamparan sawah dan pohon-pohon buah adalah pajangan di pinggir jalan. Selain itu, area ini juga pas untuk memelihara binatang ternak seperti ayam, kambing, dan sapi. Makanan mereka mudah didapatkan, kotoran mereka gampang dialirkan, dan udara di sana juga menyejukkan. Itulah faktor yang membuat banyak orang yang mempercayakan hewan ternaknya diasuh oleh peternak Lenek. Namun, pekerjaan mereka yang terlihat membosankan itu membutuhkan tenaga ekstra dan kesabaran tingkat dewa loh. Bayangkan saja, biasanya mereka dibayar dengan anak sapi atau anak kambing. Itukan gak bisa diuangkan. Kemudian bagaimana mereka memenuhi kebutuhannya? Poin selanjutnya adalah jawabannya.

9. Sukses di Lenek adalah sukses menjadi TKI
Saya sering mendengar kalau orang Lenek menganggap orang sukses adalah orang yang berbakti kepada orang tuanya. Baktinya bukan dengan cara menjadi sarjana atau melayani orang tua layaknya pramusaji melainkan dengan mengirimkan uang hasil kerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Well, kalau boleh jujur ini termasuk kekurangan dari Desa Budaya ini. Masak kerja jadi pembantu dibilang membanggakan? Bukannya meremehkan tetapi menyayangkan saja bahwa mereka yang mau dibilang berbakti itu sejatinya punya cita-cita hebat. Ada yang ingin jadi guru atau ustad atau pengusaha atau mungkin dokter. Namun karena keterbatasan dukungan, mereka memilih jalu bakti kuno itu.
Penghasilan yang di atas UMR menjadi penggugah besar yang menarik mereka bersedia disuruh-suruh di negeri orang. Uang itu pula yang aku sadari menjadi penggerak perekonomian masyarakat di sini. Karena hampir semua warga bekerja sebagai petani dan peternak yang penghasilannya tak tetap, uang kiriman para TKI atau TKW itu adalah alat untuk membeli berbagai kebutuhan yang tidak pernah berhenti tuntutannya. Mulai dari biaya makan, sekolah, hingga biaya kesehatan, itu semua kan tidak bisa menerapkan prinsip barter. Hanya uang yang bisa mengesekusinya.

10. Kuburan adalah lahan yang potensial

Hampir sama dengan poin delapan, masyarakat yang tidak punya sawah bisa dengan mudah mengambil hasil alam yang ditanam di kuburan. Selain karena untuk berhemat, menanam di kuburan juga menjadi sarana yang baik agar ibu-ibu berolahraga. Seperti mencari pala, cengkeh, atau kulur , ibu-ibu harus menyusuri sekeliling kuburan untuk mendapatkan mereka.


Komentar

Postingan Populer