Sang Dewa Pengetahuanku: Manusia Metafor
Saya pribadi termasuk orang yang lebih suka menulis hal-hal yang langsung ke poinnya, tanpa basa-basi. Mungkin karena terpengaruh oleh ajaran dosen saya, Maman Mahayana, dosen Kritik Sastra. Beliau meyakinkan, kalimat pendek cenderung lebih menarik dan lebih jelas. Namun, bukan karena saya mengikuti aliran itu, saya jadi benci kalimat panjang. Terkadang, kalau menemukan tulisan yang panjang yang sudah tidak jelas intinya ditambah tidak tepat sintaksisnya, saya memilih untuk tidak membacanya. Daripada kesel sendiri lebih baik memilih yang lain deh.
Well, tapi di antara ribuan orang yang suka menulis kalimat panjang, terselip manusia hebat yang mampu membuat saya mematahkan pernyataan kalimat pendek itu lebih baik. Kalau membaca tulisan mereka, kalau belum sampai titik kalimat, rasanya mata gak bisa mengedip. Saya akui orang-orang ini mempunyai satu kesamaan yang menjadi kelemahan saya, yaitu metafor. Metafor ini bentuk bahasa yang di masa sekolah sering muncul di bab puisi. Kemudian kalau di kampus saya, bentuk ini masuk ke dalam materi puisi, semantic, dan wacana. Gampangnya, metafora ini adalah alat untuk menggambarkan maksud dengan cara yang implisit. Keimplisitan itu bisa dalam bentuk perbandingan sederhana atau analogi dengan kalimat kompleks. Mereka yang jago buat metafora, dalam tulisan ini saya sebut sebagai Manusia Metafor.
Sumber gambar: Google
Orang yang pertama itu adalah Budi Darma. Sang legenda sastra yang karya-karyanya sudah diterjemahkan ke banyak bahasa ini terkenal banget dengan ciri khasnya yang cakap mengembangkan kalimat. Gak heran, tiga baris adalah jumlah baris paling sedikit yang ia gunakan untuk mengungkapkan idenya. Saya sendiri cenderung suka karya beliau yang berhubungan dengan kritik sastra daripada karya sastranya. Berikut kutipan favorit saya dari karya beliau Solilokui: Kumpulan Esai Sastra. Sebelumnya saya minta maaf belum bisa mencantumkan halaman kutipannya karena bukunya sudah hilang.
“Di Indonesia, persepsi masyarakatlah yang tidak mendukung suasana yang baik untuk menulis.”
“Tidak semua intelektual harus menjadi teknokrat, meski semua teknokrat adalah intelektual.”
Sumber gambar: Google
Orang yang kedua adalah Erin Mckean. Sebenarnya saya baru bertemu Erin di awal tahun 2019. Karena merasa kurang pengetahuan akan leksikografi, saya menjelajahi Google dan bertemulah dengan sosok ini. Wanita asal Amerika ini dulu berprofesi sebagai editor Oxford English Dictionary. Sekarang, beliau mengembangkan platformnya sendiri bernama Wordnik serta menjadi orang penting di balik pengembangan API IBM (saya lupa istilah jabatannya apa, intinya berhubungan dengan pengkodean). Nah, karena prestasinya ini, Erin sering diundang sebagai pembicara di acara-acara akademisi yang diadakan perusahaan besar sekelas Google, TED, Fluent, Javascipt, dan sebagainya.
Hebatnya Erin, walau membawa tema yang terbilang jauh dari tema yang laku di pasaran, yaitu tentang kata, ia suskes masuk ke jajaran speaker favorit. Erin punya kelebihan dalam hal presentasi yang membuatnya terus dipercaya sebagai pembicara atau juri utama di berbagai acara. Hal yang mendasar mengapa ia seperti itu adalah gayanya yang luwes dalam memetaforkan kalimat. Inti yang ia ingin sebarkan bisa dengan mudah ia cari perbandingannya dengan hal yang lebih umum diketahui masyarakat banyak. Mengingat peserta acaranya tidak semuanya dari jurusan bahasa, Erin harus pintar-pintar memilih kata untuk mengungkapkan apa yang ia maksud. Banyak sekali sebenarnya metafor favorit saya. Namun saya akan menyelipkan dua saja ya biar seragam. Untuk kalian yang mau tahu lebih banyak tentang beliau bisa cek videonya di youtube.
“kata itu bukan pinokio. Dia tidak ingin menjadi nyata. Kata ya kata, sesuatu yang punya makna. Pakailah jika kamu suka. Jangan kamu pakai kalau sudah dibakukan di kamus. ”
“ketika kita membuat kue mangkuk dan kemudian hasilnya melebihi wadahnya. Yang akhirnya tak indah rupanya. Jangan kita salahkan cara pembuatan kuenya. Salahkan diri kita mengapa membuat kue di tempat yang tidak seharusnya. Itulah pandangan umum kita yang sering menyalahkan sebuah kata yang tidak ada di kamus. Kata yang tidak ada di kamus tidak bisa dituduh sebagai kata yang jelek. Yang jelek dan perlu disalahkan adalah kamusnya.”
Sumber gambar: Google
Terakhir adalah Nurlaelan Puji Jagad. Wanita asal Lombok Tengah yang sudah menerbitkan kumpulan puisinya Curug Bidadari ini bisa dikatakan sebagai bibit teruji bagi masa depan keperpujanggaan Tanah Air. Lulusan Sastra Jerman Universitas Indonesia ini bagi saya adalah Manusia Metafor yang patut dikagumi. Sekali membaca karyanya, rasanya sulit untuk tidak berkata “ia” atas apa yang diucapkannya. Well, ini dia metafor favorit saya.
“membuat rumah baca itu gak gampang. Ibarat kita berjalan menuju satu tempat. Kalau kita berjalan sendiri, sampainya akan lebih cepat walau tak ada cerita berharga tentang perjalanan itu. Namun, kalau kita jalan bersama, kita jelas akan sampai lebih lama. Namun untungnya kita punya banyak kisah. Cerita dan tawa itu lah yang akan menjadi bahan utama untuk kita bisa lebih solid.”
“Allah itu Maha Mendengar. Bahkan doa di tengah hujan deras mampu dikabulkannya. Meskipun kita sendiri yang mengucapkannya tidak dapat mendengarnya.”
Sebenarnya masih banyak penulis yang menggunakan gaya metafor ini sebut saja Eka Kurniawan, Seno Gumira, dan lain-lain. Namun saya memilih tiga orang itu karena tingkat intensitas saya berkelut dengan karya mereka. Buat kalian yang mau kasih saran buat bahan tulisan yang ingin dipost, share aja di kolom komentar ya. See you on the next post.




Komentar
Posting Komentar