GENG ONAR PUJAAN HATIKU

Hampir dua tahun kami bersama  menjadi keluarga XII IPS. Kami adalah sekumpulan anak yang mengadu nasib di sekolah kecil bernama Madrasah Aliyah Az-zuhriyah Hamzanwadi NW Tanjung, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Dengan sekolah yang sangat sederhana yang masih untung masih menghindarkan kami dari teriknya matahari dan derasnya hujan, kami  masih bisa menuntut ilmu. Kelas kami hanya lima banyaknya. Bertembokkan semen yang bercat hijau dan pembatas dari kayu, sebanyak 80-an siswa bersekolah di sekolah yang didirikan oleh Maulana Syeikh ini, salah satu tukoh agama populer di Lombok dan di Indonesia. Ada beberapa kelas tambahan sebenarnya di depan gerbang sekolah yang sudah dibangun, namun entahlah sampai sekarang pembangunan belum juga selesai. Mungkin karena gempa atau dana yang tak pernah mencukupi. Walau seperti itu, di tengah keterbatasan kami, ada secercah harapan untuk bisa menjadi manusia yang berilmu.

Dulu, sekolah ini terkenal sebagai sekolah favorit. Selain karena dibuat oleh bapak Maulana, sekolah kami sangat serius membangun karakter santri yang berbudaya. Tak heran jika alumni sekolah ini banyak yang sukses, setidaknya sukses dalam mengaji dan berkhotbah. Sebut saja guru-guru kami sendiri, yaitu Bu Sur, Pak Andi, Bu Eng, Bu Omi, dan yang lainnya. Namun, karena banyaknya sekolah baru yang lebih bagus dan lebih lengkap fasilitasnya, tertinggallah sekolah kami ini. Sekolah-sekolah baru di Lombok sekarang sudah beralaskan keramik dengan gedung sekolah yang bertingkat. Belum lagi kegiatan ekstrakurikulernya yang menarik, seperti kegiatan drum band, berjalan dengan rutin. Beda sekali dengan kami, drum kami sudah lapuk semua dan tidak berfungsi, sehingga sekarang hanya berakhir di tempat pembuangan. Berdasarkan kekurangan yang sudah disebutkan di atas, sekolah kami akhirnya terkenal dengan muridnya yang sangat miskin atau sangat nakal. Walau pandangan masyarakat seperti itu, kami tetap semangat menjalani masa sekolah di sini. Setidaknya sekolah kami lebih baik bagiku. Karena kami belajar bersama anak-anak yang menyenangkan dan sekolah kami memiliki lapangan bola yang luas.

Kelas XII IPS angkatan 2018 berjumlah 18 murid saja. Itu saja sudah lumayan banyak. Maklum angka pernikahan dini di Lombok sudah sulit diatur. Belum lagi anak-anak yang sudah pasrah dengan kehidupan sekolah yang terkesan tidak menguntungkan. Memang beberapa kali, saya berpikir sama pula. Lebih baik bekerja daripada sekolah. Walau sekolah kami gratis, ketika menuju sekolah, kami butuh uang ongkos. Kalau lapar kami harus beli makan. Kemudian belum perlengkapan sekolah seperti buku harus bisa kami sediakan. Juga beberapa guru yang tak sama sekali memotivasi, rasanya ampuh membuat kami frustrasi sekolah. Namun, aku juga berpikir bahwa perjuangan memang butuh pengorbanan. Dengan rajin belajar dan ikhlas menuntut ilmu, mungkin kelak hidupku lebih baik. Itulah yang membuatku dan teman-teman memilih terus bersekolah.

Kelas ini memiliki murid lelaki paling banyak. Hanya lima muridnya yang perempuan. Sisanya, laki-laki semua. Jadi jangan heran kalau kelas kami dikenal sebagai pembuat onar. Meskipun kelas kami dikenal sebagai kelas paling ribut, suka keluar kelas, dan yang paling onar, aku sangat bangga berada di kelas XII IPS ini karena mereka baik-baik dan ramah. Di antara mereka semua, ada tiga teman baikku, Sobri, Hamdan, dan Herman. Meskipun Hamdan dan Sobri anak pindahan dari kelas XI IPS SMAN 1 Labuhan Haji, lama kelamaan saya sangat dekat dengan mereka berdua. Kalau temanku yang lainnya, yaitu Herman Hadi sudah kukenal dari SD dan MTS. Hingga sampai saat ini, aku sangat dekat dengan dia. Karena kesamaan sifat dan tujuan, kami berempat menjadi teman baik, susah senang kami selalu bersama.

Di kelas kami, guru sering tidak masuk. Guru-guru di sekolah kami juga terkenal dengan gaji yang pas-pasan. Gaji mereka murni diperoleh dari dana Departemen Agama RI. Ada beberapa guru yang berpenghasilan lebih, itu setelah berjuang mendapat sertifikasinya. Jadi, banyak di antara mereka yang mencari sambilan mengajar di sekolah lain atau sesekali berjualan di pasar. Ada juga guru yang baru melahirkan, sehingga jam mengajar yang seharusnya ia isi terkadang dikosongkan karena ia memilih menyusui anaknya. Aku banyak tahu info-info tersebut karena guru bahasa Indonesia kami sering menceritakan banyak hal. Hal itu beliau ceritakan dengan maksud membuat kami sadar. Sadar bahwa kami harus lebih menghargai guru-guru kami. Alhasil, kami tidak pernah marah atau berdemo karena banyak dianggurkan. Karena ada beberapa guru pula yang begitu luar biasa ikhlas membina kami dan membimbing kami. Satu, dua guru yang jelek tidak akan setara dengan kebaikan satu guru yang penuh ikhlas mengajar kami.

Walau kenyataannya kelas kami sering kosong, kami merasa itulah masa yang perlu dikenang. Di momen seperti itu pula, kami berempat membuat onar. Entah mengapa dan tak ku sangka keonaran kami bisa membuat kelas kami menjadi hidup. Pada suatu hari, terjadi keributan besar saat mid semester. Pelajaran matematika, pelajaran yang kami anggap paling sulit, akan diujikan. Sesuai dengan jadwal, seharusnya kelas kami diawasi oleh Bu Mufidah. Kami sangat senang, karena beliau orangnya santai, lucu, dan suka diajak kompromi. Bisa dikatakan, beliau guru yang bisa dikelabui. Yah, itulah kekurangan kami. Seharusnya berbekal ilmu agama yang setiap hari kami tekuni, tindakan curang pada saat ulangan tidak perlu dilakukan. Kami pun ingin jujur. Akan tetapi, bayangan dihukum dan dicaci maki karena nilai yang jelek membuat kami nekad untuk mencontek.
“Ya Allah, mohon maaf. Untuk sekali ini saja.” Ungkapku dalam hati yang sebenarnya sedikit menyesal melakukan perbuatan salah ini.

Setelah melakukan rutinitas sehari-hari sebelum belajar, yaitu mengaji dan mendengarkan penyampaian hadis dan tausiah dari Bu Sur. Aku ingat saat itu, Bu Sur menjelaskan hadis tentang kedatangan abad yang ditandai dengan meningkatnya manusia yang tidak takut berbuat zolim. Menyinggung sedikit perihal gempa yang sudah sebulan bertamu di Lombok, Bu Sur meberitahukan bahwa semua cobaan dan musibah yang kita alami sudah ada petunjuk dan tanda-tandanya. Aku lupa nama abadnya dan tanda-tandanya. Aku tak fokus karena datang terlambat. Namun intinya, kami harus mulai memperbaiki sifat buruk demi terhindar dari azab Allah yang pasti.

Setelah tausiah tersebut, kami semua langsung menuju kelas masing-masing. Hari ini aku merasa aneh. Rasanya seperti akan terjadi hal buruk. Selain tadi pagi kena marah oleh Bu Ecun karena tidak piket membersihkan ruang guru, aku juga merasa akan ada ketidakberuntungan lain yang akan menimpaku.

Bel pun sudah berbunyi, setelah pelajaran bahasa Indonesia, saatnya ulangan matematika yang harus dilayani. Kami berempat, sang pembuat onar tampak begitu tenang. Mungkin sesekali membayangkan masa ketika jam pulang berbunyi.
“nanti habis ujian ke rumah ku yuk” ungkap Hamdan sambil menyisir rambutnya menajdi lebih necis
“boleh” jawab kompak kami bertiga
“mana nih Bu Mufidah. Ndak sabar nih buat…buat pulang…” ungkap Herman memcah kesunyian kelas.
“huh..dasar kamu. Emang uda belajar? Jangan-jangan uda siapin contekan ya?” respon Novi, teman kelas kami yang paling cantik namun cerewet
“fitnah aja. Jangan begitu. Emang kalian gak ada rencana nyontek apa?” balas Sobri sambil melihat potongan kaca melirik giginya yang terasa ada yang tersangkut
“kalian percaya diri banget soalnya ada Bu Mufidah ya? Semoga aja yang ngawasin Bu Ecun” balas Marliana, murid manis sekaligus murid terpintar di kelas kami.
“he, teman –teman lihat…” ungkap Ihsan, sang ketua kelas memecah percecokan di antara kami.

Ternyata doa si Marliana terkabul. Pengawas kami bukan Bu Mufidah. Namun bukan juga Bu Ecun. Tanpa ada angin, tanpa ada hujan, yang menjadi pengawas kami malah Pak Andi. Tiba-tiba saja, kelas yang semula ribut dan ramai menjadi sepi seperti tidak ada penghuninya.

Pak Andi dikenal sebagai guru paling galak yang senang menghukum. Beliau termasuk juga alumni sekolah ini. Oleh sebab itu, beliau yang merupakan guru bahasa Inggris sangat berjuang keras mengembalikan masa kejayaan sekolah kami ini. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kedisiplinan dalam belajar. Beliau pun menjadi guru yang paling ditakuti di sekolahan ini.

Di saat Pak Andi masuk sebagai pengawas, kami berempat kebingungan karena kami tidak pernah belajar. Kami pun termasuk murid yang paling sering diperhatikan Pak Andi karena tingkah laku kami yang sering melalaikan tugas bahasa Inggris. Bahasa Inggris juga termasuk pelajaran tersulit tentunya setelah pelajaran matematika. Setelah Pak Andi masuk, beliau menyuruh kami memasukkan buku serta memperingatkan kami untuk tidak mencontek dan jangan lupa berdoa. Teman-teman terlihat pasrah pada nilainya. Mereka serentak menyimpan bukunya dan mempersiapkan segala alat tulis untuk ujian. Namun tidak dengan kami berempat. Rasa takut kepada hukuman dan caci maki menguatkan niat kami untuk mencontek.

“eyi kita harus mencontek. Soal ini akan benar-benar susah” perintah Herman dengan suara pelan.
“tapi ini Pak Andi. Apakah kita akan berhasil?” jawabku dengan suara terbata-bata.
“pilih mana, kita dapat nilai jelek dan dimarahi. Atau mencontek yang mungkin akan menyelamatkan kita” kata Hamdan sambil melirik ke arah Pak Andi yang sedang membagikan lembar soal ke barisan bangku sebelum kami
“oke, aku yang akan menjadi penghalang. Kemudian Sobri dan Eyi bertugas untuk menulis semua jawaban. Kamu, Hamdan menyiapkan buku contekan.” Lanjut Herman memerintah sambil berbisik pelan

Perlahan tapi pasti, kami berhasil melaksanakan tugas kami masing-masing dengan baik. Sudah terhitung tiga soal yang berhasil kami selesaikan. Tersisa dua soal lagi. Ketegangan yang sebelumnya sangat kental terlihat pada kami, sedikit demi sedikit menjadi menyusut karena tinggal dua soal lagi yang harus kami selesaikan. Tanpa memperdulikan yang lain, apakah bertindak sama seperti kami atau tidak. Kami berempat tetap kompak menjalankan misi. Kami pun terbantu dengan sikap Pak Andi yang saat itu sedang asyik melihat ponsel genggamnya dengan ekspresi serius.

Di saat momen-momen aman ini, momen ketika kami dengan tenang mencontek, tiba-tiba Herman membuat kesalahan. Tanpa disangka dia kentut di tengah sepinya kelas.
 “TUUUUUUUUUTTTTT” bunyi kentut Herman memecah kesunyian kelas.

Di saat itu, suasana berubah menjadi ribut. Hamdan yang juga ikut tertawa, tidak sengaja menjatuhkan buku contekan itu.
“booook” bunyi buku paket matematika yang terlepas dari genggaman Hamdan.
Kami berempat yang saat itu sedang ikut terbuai dengan kentutnya Herman kembali menjadi tegang setelah melihat buku yang telah dijatuhkan Hamdan. Langsung saja, Pak Andi yang sedang keliling kelas melihat buku contekan itu dan segera menghampiri Hamdan.

Lalu Pak Andi berkata dengan ekspresi marah  “ siapa yang menyuruh kalian mencontek?”
Kami berempat tidak bisa menjawab dan sangat ketakutan. Sayang sekali, padahal tinggal dua soal lagi dan kami akan selamat. Namun itulah nasib buruk dan perbuatan buruk. Pasti akan mendapat teguran.

Mendengar teriakan Pak Andi, seketika itu juga kelas menjadi sepi. Kali ini kesunyian kelas bukanlah tanda ketegangan, melainkan tanda iba teman-teman sekelas terhadap nasib kami yang sangat tidak beruntung. Pak Andi pun mengambil lembaran jawaban kita berempat dan menyuruh dengan kasar agar kami keluar. Tentunya, hasil yang buruk, omelan, serta cacian adalah balasan setimpal dari semua tindakan kami. Nilai kita berempatpun menjadi sangat anjlok. Bahkan kami hampir dikembalikan ke kelas XI. Untung saja, guru-guru masih memberikan kesempatan pada kami. Sejak saat itu, kami  berempat berjanji tidak akan mencontek lagi, semua pelajaran yang diawasi Pak Andi.



Oleh Hairil Anwar

Komentar

Postingan Populer