Menariknya Membaca Fiksi Balutan Fakta
Kabar kasus suap Lapas Sukamiskin saat ini sedang menjadi topik utama di Indonesia. Namun tampaknya pembongkaran taktik pintar para “napi licik” tersebut sudah dari lama termuat dalam sejumlah novel-novel karya anak bangsa. Sebut saja novel karya Arswendo Atmowiloto, Projo dan Brojo. Walaupun tidak mirip seperti kisah di Lapas Sukamiskin, dalam novel tersebut tergambar secara menarik kemewahan sebuah penjara. Dalam novel yang diterbitkan oleh Gramedia ini, Projo seorang pengusaha yang sudah memiliki segalanya dituduh dalam sebuah kasus dan mengharuskan ia menghabiskan masa hidupnya untuk beberapa tahun di sel tahanan. Namun, karena penasaran mengenai kasusnya dan permasalahan bersama istrinya, membuat Projo dengan bantuan Zul, sahabat yang sebenarnya tidak terlalu dekat dengannya membuat usaha yang mereka sebut “Pelolosan Projo”. Keluarnya Projo akan digantikan dengan masuknya Brojo, yang disebut-sebut sebagai orang yang mirip 99 persen dengan Projo. Kemudian dari serangkaian konflik tersebut, Arswendo menunjukkan sistem hukum di Indonesia.
Mungkin hal tersebut termasuk hal yang acapkali kita kenali dan tidak kita anggap hal yang aneh. Karena dengan uang, apalagi uang yang tidak diperoleh dengan cara yang benar, akan membuat kita melakukan segala cara untuk memuaskan nafsu. Dengan kelengkapan fasilitas dan kemudahan segalanya, Brojo heran bukan kepalang. Mengapa sebuah lapas, atau penjara, yang sebenarnya diharuskan untuk para tahanan guna membuat efek jera, begitu sangat nyaman dan sangat lebih baik dari kehidupan Brojo sebelumnya. Setelah diperhentikan sebagai montir, Brojo begitu kesulitan menemukan pekerjaan dan terpaksa memulangkan istrinya agar semua kesusahannya itu ditanggungnya sendirian. Setelah itu, Zul, yang menyamar sebagai sesosok malaikat menawarkan pekerjaan aneh kepada Brojo. Hanya dengan menggantikan posisi Projo di tahanan, Brojo akan memperoleh banyak uang dan terlepas dari kemiskinan. Sangat mudah tentunya, cukup bergaya seperti Projo, bercakap dan bertindak seperti Projo.
Itulah alur cerita dalam novel Projo dan Brojo. Sangat sederhana tetapi mengungkap pengaplikasian hukum di negeri Indonesia. Jadi tidak heran banyak lapas nantinya yang akan menjadi sorotan media lagi, karena terbukti memudahkan para napi, penjahat negara untuk menikmati kejahatannya. Semoga ke depannya ada yang berubah. Setidaknya mulai dengan membaca dan mendekatkan diri dengan karya lain seperti Projo dan Brojo, generasi muda mungkin bisa memperbaiki agar tidak mengikuti jejak yang salah.
Mungkin hal tersebut termasuk hal yang acapkali kita kenali dan tidak kita anggap hal yang aneh. Karena dengan uang, apalagi uang yang tidak diperoleh dengan cara yang benar, akan membuat kita melakukan segala cara untuk memuaskan nafsu. Dengan kelengkapan fasilitas dan kemudahan segalanya, Brojo heran bukan kepalang. Mengapa sebuah lapas, atau penjara, yang sebenarnya diharuskan untuk para tahanan guna membuat efek jera, begitu sangat nyaman dan sangat lebih baik dari kehidupan Brojo sebelumnya. Setelah diperhentikan sebagai montir, Brojo begitu kesulitan menemukan pekerjaan dan terpaksa memulangkan istrinya agar semua kesusahannya itu ditanggungnya sendirian. Setelah itu, Zul, yang menyamar sebagai sesosok malaikat menawarkan pekerjaan aneh kepada Brojo. Hanya dengan menggantikan posisi Projo di tahanan, Brojo akan memperoleh banyak uang dan terlepas dari kemiskinan. Sangat mudah tentunya, cukup bergaya seperti Projo, bercakap dan bertindak seperti Projo.
Itulah alur cerita dalam novel Projo dan Brojo. Sangat sederhana tetapi mengungkap pengaplikasian hukum di negeri Indonesia. Jadi tidak heran banyak lapas nantinya yang akan menjadi sorotan media lagi, karena terbukti memudahkan para napi, penjahat negara untuk menikmati kejahatannya. Semoga ke depannya ada yang berubah. Setidaknya mulai dengan membaca dan mendekatkan diri dengan karya lain seperti Projo dan Brojo, generasi muda mungkin bisa memperbaiki agar tidak mengikuti jejak yang salah.


Komentar
Posting Komentar