Budaya Konsumtif Sang Atasan



Sebuah papan karangan besar terpajang di depan gedung pernihakan temannya Bibi. Tertulis di sana, “Selamat Menempuh Hidup Baru-Dari Dede Yusuf”. Bibi saya yang polos pun berkata, “Wah hebat ya, sampai pejabat turut memberikan ungkapan bahagia.” Saya yang melihat itu membalas dengan gaya bicara judes, “yah, cuman dikirimkan ginian? Lebih baik doa aja deh nanti bingkainya layu juga.”

Saya pun teringat dengan ceramah Ustad Somad. Sebenarnya datang ke walimahan, salah satu kegiatan ibadah loh. Jadwal yang padat, jarak yang jauh, atau keterbatasan biaya acapkali menjadi alasan untuk berkata “selamat ya. Semoga sakinah, mawadah, warahmah maaf ya belum bisa datang.” Kalau dipikir-pikir, kehadiran itu adalah sebuah bentuk apresiasi kepada mereka yang berjuang mengikuti sunah rasul. Akan tetapi, saya pribadi termasuk orang yang agak malas juga hadir ke pernikahan terutama orang yang tidak terlalu dekat. Sekalipun datang, juga lebih suka menghadiri prosesi akadnya daripada resepsinya. Lebih aman untuk yang jomblo dan entah mengapa saya merasa menghadiri ke resepsi merupakan upaya “pamer” dengan busana dan riasan menor. Minjem juga tak masalah, asal tampil mewah. Iya gak? Heheheh, tapi itu pendapat saja, karena saya sering menggunakan pakaian sederhana dicap sebagai orang apa gitu, pernah juga pakai ransel dan sepatu kets, juga diliatin aneh.

Kembali lagi ke topik awal, sebenarnya dalam tulisan ini, saya ingin memaparkan kiriman bunga dari Dedi Yusuf itu, entah mengapa kebiasaan tersebut agaknya menjadi sebuah budaya yang sepertinya dianggap sebuah lambang yag melekat pada status seseorang. Sebut saja, kalau seandainya Dede Yusuf mengirim hadiah kotakan saja dan dia menghadiri acara pernikahan tersebut, bukannya jauh lebih hebat ya. Namun, kenyataannya itu sebuah hal yang jarang, masa sih, seorang pejabat “cuman” ngasih hadiah kotakan. Nah, karangan bunga yang terlihat mewah itu walau kecil manfaatnnya, sepertinya ampuh meninggikan gengsi. Secara kan, satu karangan bungan besar saja bisa mencapai harga 500 ribuan. Yah, kalau niatnya baik tak apalah, kalau cuman ajang pamer? Nah itu, uda bunga gak bisa dimakan, gak bisa tahan lama juga. Sebatas opini saja ini, belum ke topik awal ya.

Latar belakang di atas sebenarnya mengguratkan makna bahwa pembentukan stigma “baik atau buruk”, “standar atau aneh”, atau “umum atau unik” itu banyak dibentuk oleh budaya konsumtif loh. Kalau kalian agak ragu, pembaca yang budiman dapat mengingat kembali masa wisuda, mas menikah, atau masa lainnya yang mendukung pernyataan saya.
Fenomena yang lebih membingungkan lagi adalah ketika muncul tren yang menempel pada suatu jabatan kadang kala, dan memang selalu mengarah ke budaya konsumtif. Sebut saja, penggunaan mobil di kalangan elit atau kalangan kantoran. Rasanya, sulit untuk kembali menaiki motor jika sudah nyaman dengan mobil. Selain, karena mobil memang harus digunakan jikalau tidak ingin membuat mesinnya mati, gengsi menggunakan mobil tentu meningkatkan rasa “kepercayaan diri” bukan?

Bahkan yang lebih parahnya, seringkali sang atasan menularkan budaya konsumtifnya kepada bawahannya dengan dalih kegiatan penguatan silaturahmi. Sebut saja, kegiatan naik “motor gede” bareng sebagai bentuk pelampiasan hobi sang atasan yang inginnya diikuti bawahan. Nah, kalau bawahan yang gak bisa beli motor besar, gimana? Disuruh minjem ke bank atau dijauhi karena dianggap gak solid? Entahlah, kayaknya harapan melihat sang atasan yang ngajak anak buahnya “berkegiatan layaknya masyarakat pribumi” agak mulai menurun. Mungkin gak ya?

Komentar

Postingan Populer