Bukan K Biasa: Sapaan Akrab Masyarakat Lenek



Bukan hal yang baru jika ada bentukan-bentukan unik ketika kita ingin memanggil seseorang secara akrab. Selain panggilan sayang, penggalan kata dari nama atau mungkin penambahan huruf-huruf tertentu acapkali terlontar dalam sebuah lingkungan. Saya belum tahu istilah linguistik yang tepat untuk fenomena ini, tetapi saya memasukkannya ke dalam fenomena artikula nama. Panggilan untuk mengkhususkan subjek yang dipanggil. Kalau dalam pengertian teorinya, artikula dicontohkan dengan kata si, para, sang, yang diletakkan sebelum nama subjek. Nah, saya menganggap bahwa fenomena ini terjadi dengan bentuk yang berbeda di Desa Lenek, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lombok Timur, NTB.

Hal ini baru saya sadari tujuh bulan setelah lama berdomisili di Lombok. Sering kali saya mendengar nama yang sepertinya tidak terdengar seperti nama asli yang seharusnya. Dalam satu kasus, seorang gadis bernama “Asih”. Karena bentukan artikula ini, sang gadis selalu dipanggil “Kasih”. Begitu juga “Iwah” menjadi “Kiwah” atau “Umpul” menjadi “Kumpul”. Tidak ada batasan jenis kelamin dalam penambahan konsonan “k” di depan subjek. Namun, dari contoh yang terdengar, kebanyakan penambahan “k” itu banyak pada nama yang diawali vokal. Jarang atau bisa dikatakan sulit ditemukan penambahan “k” di depan nama berawalkan huruf konsonan. Penambahan ini juga acakali dilakukan untuk menunjukkan “nama ejekan” seperti “Icot” yang diperoleh dari sifat sang anak yang lambat seperti bekicot. Sang anak yang dipanggil “Icot” itu lebih sering dipanggil “Kicot”. Dengan demikian, fenomena itu menambah kekhasan kata di Lenek khususnya. Sebagai masyarakat di sini yang baru tinggal, saya tidak perlu khawatir akan berganti nama. Karena nama saya “Kiki”, sudah cukup “K”, dan tidak perlu ditambah bukan?

Komentar

Postingan Populer