Kemajuan VS Kekafiran



Tayangan Masterclass.com acapkali muncul mengawali tayangan yang hendak saya tonton. Karena akhir-akhir ini sering menonton video esai dari VOX dan TED, mungkin iklan yang muncul akan disesuaikan dengan topik yang hendak ditelusuri lebih lanjut. Awalnya saya sangat menyukainya, dan pertama kali dalam sejarah hidup saya, saya menonton tayangan iklan lebih dari dua kali. Itu hanya iklan dari Masterclass.com, dari tayangan mereka pula saya jadi tertarik secara otomatis mengepoin profil tokoh yang diusulkan menjadi instruktur di Masterclass.com. Salah satunya adalah Malcolm Gladwell, penulis buku terkenal David dan Goliath. Dengan caranya bercerita mengenai kreativitas dan strateginya dalam menulis, saya menjadi tertarik. Saya lihat semua daftar tulisannya. Begitu pula dengan instruktur lainnya seperti R.L Stine atau Judy Blume, dari yang sama sekali apatis terhadap literasi Inggris, saya jadi ternganga melihat keterkenalan para penulis itu. Ini lah budaya orang Barat yang perlu dicontoh, pandangan mereka yang mengibaratkan buku adalah sumber hidup. Jadi gak akan ada anggapan penulis itu miskin atau penulis itu hanya akan berakhir menyedihkan. Ke sini-sini, saya menyadari khususnya setelah membaca karya Gladwell, bahwa kadang kemajuan itu tampak begitu mewah dan di era milenial ini sangat dipandang luar biasa. Apreasiasi sangat besar kepada para tokoh pembaharu yang mampu membuat dunia terlihat maju. Nah, saya termasuk di antaranya. Hingga di titik saya merasa kosong di tengah keluarbiasaan karunia Allah, kok saya bisa merasa kosong ya? Saya Alhamdulillah sudah menjadi CPNS, bentar lagi mau nikah, dan punya hidup yang memungkinkan saya makan apa saja, minum semua jenis minuman, atau jalan-jalan di area pulau wisata. Tak tahu, kemajuan yang saya agungkan sebelumnya terasa hampa dan gak bermakna apa-apa tanpa keberkahan hidup dan ketenangan hati. Apakah kalian merasakan hal yang sama?

Intinya, di masa enak namun hampa itu, saya yang saat menulis tulisan ini sedang dalam masa haid, tertampar dengan tayangan yang sebelumnya saya sangat ingat sekali tidak saya rencanakan untuk ditonton. Seingat saya, saya memilih video tentang kekuatan iman, namun anehnya video yang tertayang adalah kisah ahli ibadah yang masuk neraka. Ustad Hanan Attaki memaparkan dengan gayanya yang sederhana dan santai mengenai topik yang acapkali saya rasakan. Kemudian baru kali inilah, saya rasa bahwa sebenarnya saya itu masih dalam kondisi rawan, rawan menjadi kawan syaitan, makhluk yang akan melakukan segala cara membuat manusia menjadi kawannya.

Dalam video itu dijelaskan ada seorang ahli ibadah yang menghabiskan waktunya beribadah kepada Allah. Hingga suatu saat, ada kakak beradik yang menitipkan adik perempuan mereka kepada ahli ibadah itu selama mereka selesai menyelesaikan wajib militer. Awal hubungan mereka begitu tertata dengan baik, hingga syaitan memosisikan dirinya menjadi orang baik yang pura-pura membuat hubungan dekat mereka adalah sebuah kewajaran dalam berkomunikasi. Lanjut perlahan menjadi saling terbuka satu dengan yang lain. Mulai dari buka-bukaan masalah hati dan berlanjut buka-bukaan fisik. Berzinalah mereka. Alhasil, sang gadis itu yang sudah tidak gadis lagi, hamil dan karena takut dibunuh oleh kakak-kakaknya, sang ahli ibadah itu membunuhnya. Mayat gadis itu pun tak diperlakukan manusiawi lagi, ia dikubur asal-asalan bersama janin hasil perbuatan zinah mereka.
Apa yang terjadi selanjutnya? Kakak beradik awalnya percaya bahwa adiknya mati karena sakit sesuai perkataan sang ahli ibadah. Syaitan belum cukup puas melihat itu, ia taburkan benih adu domba yang berujung pada penghukuman sang ahli ibadah. Akhir cerita, sang ahli ibadah yang hampir menghabiskan waktunya dengan mencintai Allah, berakhir di neraka setelah mengikuti syaitan yang hanya beberapa bulan merasukinya dan mendorongnya menjadi seorang yang syirik. Nauuzubillah min Zalik. Itulah bukti bahwa perkataan orang yang beribadah itu masih dalam keadaan celaka. Bagaimana yang tidak beribadah?

Berdasarkan tulisan saya di atas, saya hanya ingin berbagi bahwa kemajuan yang saya dapat saat ini baru saya sadari adalah sebuah godaan dari syaitan yang menggiring saya pada kehampaan yang ujungnya membuat saya jauh dari jalan lurus. Kadang ide atau pandangan bisa dikemas dengan baik sebagai suntikan dalam proses mendoktrinkan pandangan yang akhirnya sukses membuat orang terpengaruh. Seperti cerita Ustad Hanin di atas, tentang tipu daya syaitan, perlu kita hayati bahwa tipu daya syaitan itu tidak semua mengarah atau terlihat buruk. Syaitan dan koleganya dengan mudah mengarahkan manusia ke perbuatan positif, yang kemudian diputarbalikkan menjadi kegiatan negative yang fatal, seperti kisah ahli ibadah itu. Hubungannya dengan David dan Goliath dan ceramah Ustad Hanin adalah kisah yang dimuat di bibel itu begitu mengagung-agungkan Israel. Israel yang memang benar dan tidak salah apa pun terhadap Palestina. Di situ lah saya menyadari, doktrin kemajuan yang diusung buku itu atau apa pun oleh manusia milenial saat ini sudah senyata-nyatanya membuat kita jauh dari Allah.

Komentar

Postingan Populer